Kenaikan BBM …

19 Nov

Belakangan sosmed rame lagi dengan sorak sorai gemuruh caci maki terkait kenaikan BBM di Indonesia.

Yang mengherankan adalah, masih aja sampe sekarang banyak orang yang menulis status yang buat gw tidak konstruktif, tentang janji jokowi saat kampanye untuk tidak menaikan bbm, dibandingkan pernyataan prabowo yang mengatakan bahwa kenaikan harga bbm pasti akan terjadi kalau beliau jadi presiden. Seriously people!? Masih aja terus dilanjutkan gontok-gontokan pemilu di kasus ini? Menyedihkan deh kalian.

Daripada kalian basi ribut capres, yang bagaimanapun juga cuma akan jadi sekedar #justsaying kalian di facebook atau twitter, lebih baik mulai lah concern untuk gimana caranya kalian bisa afford harga bbm yang lebih tinggi, bagi kalian yang merasa “kudu” pake kendaraan bermotor sehari-hari.

Di samping itu, daripada protes ke pemerintah yang baru soal kenaikan harga bbm yang memang tak terelakkan, mending diskusi atau protes ke arah provider angkutan umum di Indonesia. Karena kalau kenaikan harga BBM akhirnya membuat tarif angkutan umum harus naik, bagaimana alternatif transportasi masyarakat?? Coba protes ke arah situ! Bagaimana dengan kebijakan terkait transportasi umum? Apakah ada subsidi untuk angkutan umum terlepas dari kenaikan harga bbm? Jangan sampai masyarakat akhirnya discouraged untuk memakai transportasi umum yang saat ini ada.

This is just my opinion. You don’t like it? stop reading it.

Oh ya, sudah mulai keliatan ya, mana pembela negara dan mana pembela capres. Di saat, pemikiran masyarakat seharusnya diarahkan untuk mengerti latar belakang kenaikan bbm, efeknya dan seharusnya dibawa kritis ke arah kebijakan transportasi umum terkait kenaikan bbm, beberapa masih berusaha membela capresnya. Sisanya bungkam, keliatannya dulu cuma kena serangan euforia pemilu dan capres belaka. Ini loh maksud gw dengan hidup mati pemerintahan yang baru, kita dukung. Ini bukan lagi soal capres mana janji apa mas, mbak! Ini bukan lagi soal siapa yang jadi presiden dan berapa suara yang dia dapat! Ini soal kita, soal Indonesia! Pemerintah punya kebijakan? Kritisi secara konstruktif, berikan ide-ide yang produktif! Dukung, kawal, kritisi!

Mimpi apa? Mimpi siapa?

14 Jul

Berhenti sejenak dari mengejar mimpi. Baru sadar, tarik nafas pun belum sempat…

Melihat ke belakang, satu dua tahun rasanya seperti sudah seabad. Kenapa memori-memori itu mulai hilang dari kepala. Sementara jalan ke depan tak lagi tertangkap pandangan mata.

Mungkin saat itu rasanya seperti saat ini. Selalu merasa di depan pintu sesuatu yang besar, merasa keadaan selalu genting, seakan hanya sekarang lah yang terpenting. Ya lah! Ditantang masa depan! Gerakan harus lekas dan jiwa raga harus tahan. Paksa! Paksa! Fokus dan tawakal.

Padahal..
Sementara belom tahu esok mau jadi apa, malah sembari belajar lupa kemarin ada apa.

Hidup ini bergerak tanpa kenal waktu. Kemarin ada di sana, sekarang di sini, siapa yang tahu besok dimana? Tiga, empat tahun rasanya kenangan semakin lenyap dari ingatan. Apa ini namanya “menjalani hidup dari hari ke hari, demi hidup yang lebih baik”? Dibuat terpaku hanya pada satu: di sini, saat ini, di waktu ini? Terlarut dalam gerakan mengejar segala mimpi? Tapi lantas lupa dulu bagaimana?

Sudah lupa betul dengan cerita lama. Cerita yang mana? Siapa, dimana? Bagaimana. Entah terselip di kepala bagian mana. Waktu berlalu begitu cepat, lima enam tahun pun terlewat. Masih dalam gerakan, untuk mimpi yang selalu dibayang-bayangkan.

Lalu?! Tujuh, delapan? Sembilan sepuluh? Akankah hari ini pun luruh?
dari memori dan ingatan? Ah ‘nggak lah.

Bebal. Ulang lagi dari atas! Kamu tukar mimpi maya dengan kisah lama? Coba tanya..

Kejar mimpi katanya?
Mimpi apa? Mimpi siapa?
“…”

Yang kita Butuhkan (PEMILU, 9 Juli 2014)

8 Jul

Yang kita butuh adalah rasa aman dan nyaman menjadi diri kita sendiri, berjalan bebas di tanah air yang menghargai kita, dengan segala pandangan, kepercayaan dan perbedaan.

Yang kita butuhkan adalah Indonesia yang tanpa cacat memberikan pelayanan publik dan kesempatan kepada setiap individu untuk memenuhi kewajiban dan menagih haknya sebagai warga negara.

Yang kita butuh adalah tak ada laginya air mata yang harus mengalir dibalik senyum kepasrahan saat mereka bicara bringas tentang Indonesia.

Yang kita butuhkan adalah getar dan gemetar yang merasuk dalam tubuh saat Indonesia Raya dikumandangkan. Jantung yang berdetak merinding dan terpanggil saat bendera merah putih mengangkasa..

Yang kita butuhkan adalah kembalinya separuh jiwa Indonesia kita, yang terhalang bayang-bayang masa lalu yang kelam, yang pernah malu dan diam, tak tahu harus bicara apalagi. Yang terkurung tak terwakilkan, jatuh miskin dan tidak terjamah.

Yang kita butuhkan adalah kembalinya Indonesia dalam jiwa dan raga, dalam doa dan harapan.

 

Selamat memilih Indonesia! Pilihlah pemimpinmu dengan hati nurani, dengan segala keyakinan dan pemahaman. Dengan segala kesadaran akan kebutuhanmu di dalam hatimu. Niscaya kita akan terwakili oleh pemimpin yang terbaik. Pilihlah! Menanglah dan rayakanlah! Dan tarik segera dukunganmu setelah Pemilu ini usai! Jadilah tetap kritis dalam mengawasi dan mengawal jalannya pemerintahan dan mandat yang telah kamu berikan kepada pemimpinmu. “Yang kita butuhkan” sudah waktunya terpenuhi dan jangan pernah lagi hilang dari diri.

 

Dalam kepasrahan dan harapan…

Nürnberg, 08 Juli 2014 (Pk. 21:21 CET).

 

 

Pemilihan Presiden di Mata Saya – Kalau Beda Ya Jangan Sensi Yah

23 Jun

Langsung-Umum-Bebas-Rahasia-Jujur-Adil – asas pemilihan umum yang masih saya pegang dan enggan saya langgar. Hak setiap individu yang masih saya hargai dan enggan saya langgar…

Pemilu 2014 dalam satu kata di kepala saya: “………” Saya gak tahu mau bilang apa. Hehe. Pemilu 2014 ini pastinya penuh dengan warna. Kalau saya coba lihat ke belakang 5 tahun lalu, pertama kalinya saya punya hak pilih dalam (yang katanya) pesta demokrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penggunaan Facebook, Twitter, Path atau media sosial lainnya sepertinya belum marak seperti sekarang. Apa yang sekarang terjadi di antara kalangan pemilih, tidak terjadi saat itu. Setidaknya, tidak se-intense kali ini. Fanatisme capres, bujuk rayu dan tipu daya para pendukung capres nampaknya sudah jadi hal biasa dalam pemilu kali ini. Baik atau buruknya hal ini, itu hak masing-masing untuk berpendapat.

Anyway.. Seperti yang pernah saya tulis di facebook beberapa waktu lalu di salah satu postingan seorang kawan, untuk saya, pilihan saya dalam PEMILU, baik itu pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden adalah sangat PRIBADI! Bagaikan memilih celana dalam, ada orang-orang yang memilih model 1, ada yang lebih nyaman memilih model 2, ada juga yang memilih tidak pakai celana dalam. Apapun itu pilihan masing-masing, seharusnya dihormati oleh lainnya. Bukan begitu? Apapun dasar seseorang memilih calonnya atau keputusan seseorang untuk mempertimbangkan pilihannya, seharusnya bisa dimaklumi lainnya, atau? Jangan bilang kamu manusia bebas dan merdeka kalau kamu masih tidak bisa menghormati kebebasan orang lain dan memberikan kemerdekaan bagi orang lain untuk berpikir, berpendapat dan memilih.

Makin dekat hari pemilihan, makin banyak saya didekati (red: dipaksa) banyak pihak yang mencoba menjual calon atau ideologi calon favoritnya atau sekedar mempertanyakan “kenapa lo ga pilih calon x aja sih!? Simple kok pilihannya!”. Sejujurnya.. Saya sudah menetapkan pilihan saya sejak lama, namun demikian, entah kenapa input-input yang masuk dari sekitar saya, baik yang jauh maupun dekat somehow telah secara tidak sengaja malah membawa saya ke ambang golput. Disesali sekali. Silakan katakan, pemikiran saya tidak mendasar atau tidak beralasan. Yang saya tahu, saya mau pilihan saya nanti mantep dan bisa melambangkan komitmen saya terhadap pemerintahan yang baru. Kembali ke prinsip awal. Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, jujur dan Adil. Jangan salah! Saya sangat sadar suara saya sangat berarti. Kalau ada yang bisa bilang “Ah cuma 1 surat suara!”. Coba pikir baik-baik lagi. Mungkin 10 tahun lagi kamu sadar, betapa suara kamu itu sangat berharga 🙂

Anyway, kembali ke topik awal.. Untuk saya.. Pemilu itu hanya salah satu bagian dari perubahan di Indonesia. Masih banyak elemen penting yang tetap tidak bisa ditelantarkan dari perhatian. Bagaimana oposisi dan pemerintah nantinya akan bekerja memberikan impact positif untuk rakyat dan negara, bagaimana masyarakat dapat mendukung pemerintahan, tidak hanya saat suka, tapi juga saat duka. Bagaimana keterlibatan dan kepedulian politik masyarakat tidak hanya terbatas pada pemilu, namun juga pada hal-hal kecil seperti kritis terhadap pelanggaran HAM terhadap WNI di tanah air maupun di luar Indonesia, penyalahgunaan wewenang, ketidaktransparanan pemerintahan dan lain-lain. Tanpa itu semua, siapapun presidennya pun akan kesulitan membawa kita ke tanah terjanji.

Saya bukan orang yang vokal menjajakan pilihan saya kepada khalayak ramai, dan sepertinya sampai pemilu lewat, orang-orang tidak akan pernah tahu siapa yang saya pilih dalam pemilu. Bukannya malu go public, tapi sori, itu adalah prinsip saya. Namun demikian, saya bisa janjikan kepada pemerintahan yang akan datang, bahwa saya akan berani pasang badan saat sulit maupun senang, selama pemerintahan jatuh-bangun berjalan. Saya akan senantiasa mendukung dan menggunakan hak saya sebagai warga negara untuk kritis mengawal jalannya pemerintahan, terlepas dari siapa pun kepala negara dan orang-orang yang duduk dalam pemerintahan.

Saya harapkan hal yang sama dari rekan-rekan yang sampai saat ini mendukung habis-habisan calon favoritnya baik secara terbuka mapun tertutup. Rayakan pesta demokrasi Indonesia dengan sebaik-baiknya! Gunakan hak pilih dan berani lah untuk memilih! Saya hanya berharap, Semoga saya akan (masih bisa) menemukan kalian berdiri di belakang pemerintah kita yang baru, even saat bahtera pemerintahan goyah dan akan karam sekalipun. Pemerintahan tidak akan berjalan tanpa dukungan dan pengawasan rakyat. Caci maki, protes tidak konstruktif dan kritik tak membangun hanya akan membuat kita kelihatan lucu di mata tetangga, apalagi kalau kalian sekarang berkoar-koar mati-matian membela calon kalian, ya gak? 😉

Mari berkomitmen untuk pilihan kita, tapi lebih penting lagi, mari kita berkomitmen untuk Indonesia yang lebih baik. Keberhasilan Pemilu adalah untuk Kebaikan Indonesia dan setiap individu di dalamnya! Untuk saya, kamu, dia, kalian dan mereka! Bukan hanya untuk segelintir orang, kelompok atau golongan. Semoga pemilu kali ini berjalan dengan baik, dan pemerintahan yang baru dapat mencapai dukungan kolektif rakyat, demi perubahan di Indonesia yang lebih baik, demi Indonesia yang lebih baik, berkepribadian, maju dan bermartabat!

Tabik

Pemilih Nr. xxx

Euforia Sesaat dan Gejolak Mahasiswa dalam PEMILU

30 May

Setelah PEMILU ini berakhir, masih ada kah kekritisan, koar-koar nasionalis(-tis) dan slogan “demi Indonesia yang lebih baik” memenuhi media sosial dan obrolan hari-hari mahasiswa indonesia di berbagai penjuru dunia?

Apakah postingan seputar PEMILU hanya dijadikan ajang promosi dan kampanye calon tersayang? Mereka bilang, menjalankan kewajiban dan hak sebagai fungsi kontrol demokrasi dan pemerintahan. Demi Indonesia yang lebih baik, demi demokrasi dan keadilan sosial bagi setiap individu di Indonesia?

Namun kenapa saat DPR plesir tanpa budget, agenda dan expected outcome yang jelas, teman-teman diam saja? Saat keputusan kepala negara tidak lagi bisa dinalar akal sehat, kenapa kalian tidak angkat bicara? Saat kebebasan dalam memeluk agama tidak lagi didukung keamanan beragama, kenapa kita menutup mata?

Masihkah kita mahasiswa akan menyambungkan suara jutaan penduduk Indonesia yang bungkam karena segala kefrustasian dan ke-apatisan? Atau fungsi kontrol terhadap negara dan demokrasi yang kalian maksud hanya terbatas pada memajukan dan memenangkan kandidat favorit kalian (berikut koalisinya) ke kursi pemerintahan?

Mereka bilang, “ini kesempatan kita untuk mengubah Indonesia! Dengan memilih presiden yang tepat untuk Indonesia!”. Bagaimana dengan segala ketidakadilan, ketidaktransparanan institusi pemerintahan, kepincangan sosial dan segala tindak pelanggaran terhadap hal asasi manusia? Bukankah itu semua kesempatan yang kalian lewatkan? Lalu jika demikian? Akankah kalian tetap diam saja ketika kandidat favorit kalian menang dan memerintah, dan terjadi kembali segala kebusukan di tanah air kita?

Akankah kita hanya menunggu PEMILU yang akan datang untuk mengubah Indonesia menjadi lebih baik? Akankah kita bungkam, ikut apatis dan hanya frustrasi terhadap segala kejadian yang menimpa kita?
Jika “ya”, tinggalkan dalih “demi Indonesia yang lebih baik”, “demi menjalankan fungsi kontrol terhadap pemerintahan dan demokrasi di Indonesia”!!

PEMILU adalah kesempatan kita untuk menyalurkan aspirasi kita dalam memilih pemimpin yang terbaik untuk Indonesia. Namun apakah kalian pikir seorang Jokowi, seorang Prabowo, sorang Soekarno atau seorang Habibie dapat membawa Indonesia ke tanah terjanji semata wayang?? Tidak tanpa kalian, tidak tanpa semangat dan kekritisan yang kita tunjukan beberapa bulan belakangan. Jangan bungkam, jangan diam, buka mata dan bersuara lah, tidak hanya sekarang, tidak hanya untuk mensukseskan PEMILU! Indonesia membutuhkan pemimpin yang terbaik, dan pemimpin yang terpilih nanti, membutuhkan kita pemuda pemudi untuk terus berkarya lewat buah pikiran kita dalam mengawal jalannya pemerintahan, demokrasi dan memberikan keadilan sosial bagi SELURUH rakyat Indonesia.

Tabik,
Pemilih Nomor xxx